gis

Belajar GIS Dari Nol

Sekitar 1 tahun yang lalu kami dihubungi salah satu kawan dari desa di kawasan lereng Gunungapi Merapi sebelah barat, kurang lebih 8 km dari puncak. Tampaknya kawan ini tertarik dengan postingan pelatihan yang diadakan oleh SinauGIS. Akhirnya menghubungi kami untuk diajari GIS untuk membuat peta batas dusun sekaligus memetakan potensi desa. Kawan ini kebetulan sekretaris desa yang masih muda, memiliki visi dan semangat yang tinggi untuk memajukan desanya. Kami mengiyakan permintaan kawan kami untuk belajar bersama membuat batas dusun dan memetakan potensi desa dengan GIS. Di awal tahun 2018, Alhamdulilah kegiatan tersebut bisa dilaksanakan dengan melibatkan unsur pemerintah desa, kadus dan unsur pemuda pemudi desa tersebut. Pelatihan singkat tersebut menghasilkan peta batas dusun yang dibuat secara partisipatif (kegiatan ini kami angkat menjadi tema dalam Seminar Nasional Geomatika – BIG 2018).

Tidak cukup belajar singkat GIS di awal tahun 2018, kawan kami bersama rekan-rekan pemuda pemudi desa, ingin memperdalam GIS lagi bersama kami. Sebelum puasa kemarin, bersama 4 orang rekan lain, kawan kami ini datang ke Garasi SinauGIS yang memakan waktu tempuh 1,5-2 jam dari desanya. Memperdalam skill GIS sampai larut malam, dilanjutkan pagi esoknya. Mereka belajar dari Nol dan tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang geospasial sama sekali. Ketekunan, kesungguhan dan semangat mereka sungguh luar biasa.

Setelah lebaran, kami mendapat kabar kalau desa mereka dijadikan pilot project untuk pemetaan persil lahan pertanian bersama desa-desa lainnya. Dan yang membanggakan lagi mereka satu-satunya desa yang menggunakan GPS dan GIS untuk pemetaan persil lahan pertanian. Bahkan mereka sempat melatih pemanfaatan GPS bagi PPL Kabupaten. Ada satu kabar bahagia lagi. Mereka punya ide untuk menyusun basis data persil lahan pertanian berbasis GIS. Kami bilang bahwa ini adalah ide luar biasa dan perlu waktu yang lama bahkan kalau di pemerintah maupun pemerintah daerah bisa jadi kegiatan yang dipihakketigakan. Mereka sama sekali tidak ada anggaran untuk menyusun basisdata ini. Yang mereka punya hanya tekad dan semangat untuk kepentingan dan pembangunan desa.

Dan Sabtu kemarin (8/9), kegiatan pendataan di lapangan sudah selesai dilakukan, waktunya untuk kerja studio menyusun basisdata persil lahan pertanian.
Kami bangga bisa belajar bersama dengan Mas Eko Kalisno dan timnya. Tekad dan semangat kalian luar biasa.
Desa di lereng Merapi yang melek teknologi dan spasial.
Berikut adalah foto kegiatan mereka yang dikirimkan kepada kami.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *